Artikel & Wawasan / Tradisi

WAHYU SEJATI PAMUNGKAS menggelar tradisi Sakral Bertakjub NYAWIJI RASA

WAHYU SEJATI PAMUNGKAS menggelar tradisi Sakral Bertakjub NYAWIJI RASA

NYAWIJI RASA dalam ilmu spiritual, khususnya dalam konteks tradisi Kejawen, "nyawiji rasa" merujuk pada penyatuan rasa secara utuh, baik lahir maupun batin, tanpa sekat ego. 


Hakekat Nyawiji Rasa adalah integrasi total antara aspek fisik (lahir) dan aspek non-fisik (batin) dalam diri manusia, serta penyelarasan diri dengan realitas yang lebih luas (Tuhan, alam semesta, atau sesama makhluk). Ini melibatkan penggunaan "rasa" sebagai organ kognitif atau indra spiritual untuk mencapai pemahaman yang lebih mendalam tentang keberadaan. Ini adalah konsep filosofis yang mendalam, yang menyiratkan integrasi total dari perasaan, pikiran, dan jiwa dalam mencapai tujuan spiritual atau kebijaksanaan hidup. 


"Hakekat ilmu nyawiji rasa" merujuk pada konsep filosofis Jawa tentang pencarian pengetahuan sejati yang melibatkan penyatuan secara utuh antara aspek lahiriah (ilmu rasional) dan batiniah (rasa/pengalaman rohani) untuk mencapai kebijaksanaan dan pemahaman mendalam tentang kehidupan. 


Nyawiji: Berasal dari kata dasar "hiji" atau "sawiji" yang berarti satu, tunggal, atau menyatu. "Nyawiji" secara harfiah berarti menyatukan, mengintegrasikan, atau menjadi utuh, baik secara fisik maupun mental. 

Rasa: Dalam konteks ini, "rasa" memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar indra perasa, merujuk pada perasaan, intuisi, kesadaran batin, atau pengalaman rohani. 

Ilmu: Pengetahuan atau ajaran.  


Makna Filosofis 

Hakekat ilmu nyawiji rasa menekankan bahwa pengetahuan sejati tidak hanya diperoleh melalui pembelajaran rasional atau logis (ilmu biasa), tetapi harus diimbangi dan disempurnakan melalui pengalaman batin dan penghayatan mendalam (ngelmu).  


Poin-poin kunci dari konsep ini meliputi: 

  1. Integrasi Total: Mencapai pengetahuan yang tidak terpecah belah, menyatukan pikiran (cipta), perasaan (rasa), dan kehendak (karsa) secara utuh tanpa sekat ego. 
  2. Pengalaman Rohani: Ilmu tidak hanya berhenti pada tingkat kognitif, tetapi harus meresap ke dalam jiwa dan menjadi pengalaman hidup. Ini sering dicapai melalui laku batin, meditasi, atau kontemplasi. 
  3. Kebijaksanaan Universal: Tujuan akhirnya adalah pemahaman akan hakikat kehidupan, hubungan antara manusia, alam semesta, dan Tuhan (sangkan paraning dumadi). 
  4. Kejujuran dan Keaslian: Proses pencapaian ilmu ini mencerminkan nilai kejujuran dan keaslian dalam memahami realitas, tidak dibuat-buat atau hanya berdasarkan teori tanpa praktek.
  5. Secara ringkas, hakekat ilmu nyawiji rasa mengajarkan bahwa ilmu yang paling bernilai adalah ilmu yang telah menyatu dengan rasa atau hati nurani, menghasilkan individu yang utuh, berwawasan luas secara spiritual, dan bijaksana dalam menjalani hidup


Maksud dan tujuan dari nyawiji rasa meliputi : 

  1. Mengenal Arti Hidup; memperoleh pemahaman yang lebih nyata dan mendalam tentang hakikat hidup dan kehidupan yang sebenarnya. 
  2. Mencapai Ketenteraman Batin; meraih kedamaian, ketenangan, dan ketenteraman dalam menjalani kehidupan sehari-hari, bebas dari gejolak ego dan konflik internal. 
  3. Menyelaraskan Diri; menyatukan visi, semangat, dan rasa persaudaraan dengan sesama, serta menyelaraskan kehendak pribadi dengan kehendak Yang Maha Kuasa atau hukum alam. 
  4. Mengatasi Dualisme; melampaui persepsi dualitas (baik-buruk, benar-salah) untuk mencapai kesadaran yang lebih tunggal dan terintegrasi. 
  5. Mengenal Tuhan (Manunggaling Kawula Gusti); dalam puncak spiritual, tujuan ini dapat dimaknai sebagai upaya menyatukan sang hamba (kawula) dengan Tuhannya (Gusti), sebuah konsep mendalam dalam mistisisme Jawa.  


Tuntunan Praktis 

Tuntunan untuk mencapai nyawiji rasa umumnya bersifat batiniah dan memerlukan latihan spiritual yang konsisten. Wahyu Sejati Pamungkas menjadi wadah dalam melatih konsistensi ini. 


Beberapa panduan umum yang didapat para Warga WS Pamungkas, meliputi: 

  1. Pengolahan Rasa: Melatih kepekaan "rasa" atau hati nurani sebagai indra spiritual utama untuk merasakan getaran energi, petunjuk batin, dan kebenaran yang melampaui logika rasional. 
  2. Mediasi dan Semedi: Melakukan praktik meditasi atau semedi (hening cipta) secara rutin untuk menenangkan pikiran, mengurangi dominasi ego, dan membuka saluran komunikasi batin. 
  3. Hidup Ikhlas dan Tanpa Pamrih: Mengamalkan sikap tulus, ikhlas, dan membantu sesama tanpa mengharapkan imbalan. Ini membantu membersihkan hati dari motif egois yang menghalangi penyatuan rasa. 
  4. Kesadaran Diri (Eleng): Selalu sadar (eling) akan kehadiran diri sendiri dalam hubungannya dengan Tuhan dan lingkungan sekitar, di setiap momen kehidupan. 
  5. Menghilangkan Sekat Ego: Secara sadar berupaya meruntuhkan sekat-sekat ego dan batasan-batasan pribadi yang memisahkan diri dari orang lain dan realitas yang lebih besar.  
  6. Yang pada akhirnya Praktik nyawiji rasa adalah sebuah perjalanan spiritual yang menekankan pentingnya pengalaman langsung melalui hati dan rasa, bukan sekadar pemahaman intelektual. 


Beberapa aspek kunci dari makna "nyawiji rasa" meliputi: 

Penyatuan Utuh: Kata "nyawiji" berasal dari kata dasar "hiji" (Kawi) atau "siji" (Jawa Baru) yang berarti satu, dan "nyawiji" berarti menyatukan atau menjadi satu. "Rasa" dalam konteks Kejawen sering diartikan sebagai organ kognitif atau kemampuan batin untuk merasakan dan memahami realitas yang lebih dalam, bukan sekadar emosi biasa. 


Tanpa Ego: Penyatuan ini menekankan hilangnya sekat-sekat ego atau kepentingan pribadi. Tujuannya adalah untuk mencapai kondisi di mana individu bertindak dan merasa dalam keselarasan penuh dengan alam semesta atau kehendak Yang Maha Kuasa. 


Integrasi Total: Ini mencakup penyatuan dalam visi, semangat, dan rasa persaudaraan, baik dalam konteks hubungan antar manusia maupun hubungan dengan Tuhan (manunggaling kawula Gusti). 


Penuntun Hidup: Konsep "nyawiji" juga berfungsi sebagai penuntun hidup, di mana seseorang diharapkan dapat mencapai budi luhur, yaitu falsafah hidup orang Jawa dalam berperilaku sehari-hari yang terwujud dalam budi pekerti yang baik.  


Secara keseluruhan, "nyawiji rasa" adalah tentang mencapai keadaan kesadaran dan keutuhan spiritual di mana tidak ada lagi dualisme atau perpecahan antara diri sendiri dengan lingkungan, sesama makhluk, dan Sang Pencipta




Manunggaling Kawula Gusti (Nyawijiné Manungsa Karo Gusti Allah) 


Makna Luhur: Nyawiji Tanpa Sekat 

Manunggaling Kawula Gusti minangka piwulang luhur ing kabudayan Jawa lan sufisme Jawi. Tegesipun, kawula (manungsa) bisa nyawiji karo Gusti (Sang Pencipta) lumantar laku spiritual, kawaskitan, lan kesadaran dhiri sejati. 

Wonten pemahaman bilih ing saben manungsa punika wonten cahyaning urip saking Gusti — "Nur Ilahi". Manungsa kang wus bisa ngresiki ati, ngendhalèkaké hawa nepsu, lan nglakoni laku prihatin, bakal bisa manunggal, nyawiji, kaliyan karsanipun Gusti. 


Unsur Filsafat: 

  1. Kawula iku bagéan saka Gusti; Kawula dudu makhluk kang kapisah, nanging pancèn minangka titah kang ndarbèni unsur ilahi. Awit saka iku, manungsa bisa mlebu tingkat kesempurnaan jiwa, yen saget nyawiji tanpa sekat egoku. 
  2. Ora mung manembah, nanging nyawiji. Yen umume piwulang agama ngajak manungsa nyembah marang Gusti, ing filsafat iki ana tingkatan luwih jero: dudu mung sembah raga, nanging sambung rasa, nyawiji roso batin marang Sang Pencipta. 
  3. Panutup ego, pambukak roso. Supaya bisa manunggal, kawula kudu ngilangi pamrih pribadi, kadonyan, somboh, lan aku. Gusti mung bisa ngancik ing manah kang resik. 


Simbolisme ing Kabudayan Jawa 

  1. Semedi/Tapa: Laku kanggo ngresiki diri saka rereget donya 
  2. Gunung lan Alas: Lambang pangasingan kanggo nyedhaki Sang Luhur 
  3. Air bening: Simbol atiné kang wis bening, dadi panggonan pangiloning urip 


Ungkapan Jawa Kang Gumathok: 


> "Gusti iku cedhak tanpa senggolan, adoh tanpa wangenan." 


> "Kawula mung sarana, Gusti kang nyipta lan nyurung samubarang tumindak." 



Piwulang Hidup: 

Elinga, manungsa iku dudu mung badan lan pikiran, nanging ciptaan spiritual kang ngemban tugas suci. 

Manunggal karo Gusti tegese urip kanthi sadar, ora mung nuruti hawa nepsu, nanging ngugemi rasa lan laku kang luhur. 

Iki dudu mung filsafat, nanging tuntunan urip, ngarahaké marang kesempurnaan rasa lan jiwa. 



“Mangreh landeping mimising cipta, cipta panggraitaning rahsa.  

Haywa lena kaki, awit hamung pinda sak gebyaring thathit”. 



Artinya, “Agar memiliki ketajaman daya cipta, daya cipta harus bisa menangkap makna yang terbersit dalam nurani. Jangan sampai lengah anakku, sebab proses untuk menangkap getaran nurani hanya berlangsung secepat kilat.”


 

Mengutamakan yang di dalam, atau yang sering disebut sebagai hati nurani, membutuhkan keterbukaan yang mampu menangkap pengertian akan hidup. Isyarat alam hanya dapat ditangkap oleh batin yang damai. 


Istilah lain yang berkaitan dengan nurani adalah “nyawiji”. Nyawiji umumnya dihubungkan dengan pikiran (ati), ucapan (lathi), dan perbuatan (pakarti). Keselarasan antara pikiran, ucapan, dan perbuatan, itu adalah nyawiji. 


Keselarasan antara yang di dalam (nurani) dan yang di luar adalah kedamaian dalam hidup. 

Ketidakdamaian muncul bukan karena keadaan luar kita, tapi karena diri sendiri. Dalam berinteraksi dengan orang lain, salah satu ketidakselarasan yang terjadi adalah ulah ego. Sang ego ini ibaratkan topeng yang digunakan untuk menutup malu atau juga meningkatkan gengsi agar dinilai baik di mata orang lain. 


Maka dari itu, kita tidaklah perlu kecewa jika memang tidak ada hal yang bisa dipamerkan atau yang bisa diakui orang lain. Justru jika merasa tidak perlu memamerkan sesuatu, maka artinya kita ini sungguh apa adanya dan berperilaku tidak dibuat-buat. Dadi wong duwe utawa ora duwe, tansah nyawiji. Menjadi orang yang berpunya atau tidak, tetap memiliki keselarasan dalam pikiran, ucapan, dan perbuatan. 


Dari pemahaman seperti ini, nyawiji adalah tuntunan hidup. Batin yang senantiasa apa adanya, selalu tenteram hidupnya, dan selalu menuntun ke arah yang baik